Pada ajang Copa America dan Olimpiade tahun 2016, nama seorang bocah Brazil berjuluk Gabigol begitu melesat dan banyak dibicarakan media-media Eropa. Gabigol begitu dielu-elukan karena statistiknya di usia muda yang begitu cemerlang untuk seorang pemain muda. Hal itu juga didukung dengan gaya mainnya yang eksplosif yang begitu menjanjikan. Lebih lagi, ia adalah tatapan masa depan Barcelona karena dianggap sangat mirip dengan Neymar Jr. Gabigol adalah pemain Santos, dan merupakan penganut berat seorang Neymar ketika sama-sama di akademi. Inilah yang mendorong Barca untuk mengiayakan saran Neymar akan membuat perjanjian dengan Santos untuk merekrut Gabigol di masa depan. Namun Santos mengkhianati kesepakatan, mereka menjual Gabi kepada Inter di musim panas kemarin, dengan nilai yang pastinya menguntungkan bagi mereka.

Ekspektasi besarpun muncul, kalau bocah yang bernama lengkap Gabriel Barbossa ini akan menjelma sebagai pemain muda penuh kejutan. Bayangkan saja, harga 25 jt Euro bukanlah uang yang murah untuk pemain yang belum menunjukan apapun di kiprah Eropa, apalagi untuk klub sekelas Inter yang jarang mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk seorang bocah.

Hal yang ditunggupun tidak kunjung datang, Gabigol tidak pernah membuktikan apapun kepada semua orang, jelasnya, Inter tidak pernah mau memamerkan mobil mewahnya. Sampai menjelang berakhirnya setengah musim, Gabriel bahkan hanya memberikan 16 menit kemampuannya untuk Inter, tentu saja ini tidak senilai dengan harga dan gaji yang dikeluarkan manajemen klub.

Semua orang menunggu Gabigol bermain, karena ia adalah satu-satunya misteri yang tidak bisa diungkap siapapun. Tidak ada yang mengetahui alasan ia tidak pernah dimainkan, sejak Inter dibesut Frank de Boer, Vecchi, sampai dengan kini Stefano Pioli pun tidak pernah ada yang berani menurunkan ‘Ferrari ‘ persembahan Suning ini. Semua orang hanya tahu, “Gabigol perlu untuk beradaptasi.” Jika memang begitu, kenapa seorang bocah primavera macam Andrea Pinamonti bisa begitu saja mendapat kepercayaan dimainkan? Sedangkan Gabigol tidak pernah mendapatkannya.

Situasi pelik ini pun coba dimanfaatkan oleh kubu Liverpool yang pernah mendapatkan keuntungan besar. 3 tahun silam, The Reds coba memanfaatkan talenta yang disia-siakan Inter bernama Philipphe Coutinho. Mereka hanya merogoh kocek 10 jt Euro untuk bocah yang kini menjelma menjadi sosok playmaker kelas dunia. Hal yang sama akan diulangi Liverpool terhadap Gabriel Barbossa yang mulai tidak senang berlama di bench Inter Milan. The Reds akan mencoba mendatangkan Gabigol di bursa Januari, momen yang sama ketika mereka mendapatkan Countiho di Januari 2013.

 

The Mirror

 

LEAVE A REPLY