Ketika Inter melumat Lazio 3-0, Pioli tidak berani memberikan waktu pertandingan yang tersisa banyak kepada seorang ferarri mewah Inter bernama Gabigol. Ia malah justru memainkan Palacio yang terbukti tidak memberikan dampak apapun usai dimasukkannya. Gabigol justru yang dimasukan di sisa 5 menit waktu normal malah mengundak decak kagum berkat aksi singkatnya yang cukup istimewa. Fans pun memberikan tepuk tangan tiap bola berada di kaki Gabigol sebagai bentuk apresiasi ia bisa terus bersabar.

Terlepas dari itu, rumor yang perginya Gabigol tidak surut berkembang kencang. Setelah media-media percaya bahwa pelatih Inter tidak menyukai peran Gabigol di Inter. Maka Januari pun adalah waktu terdekat bagi Gabi kembali berseragam tim baru.

Menurut agen dari penyerang InterGabriel “Gabigol” Barbosa, Wagner Ribeiro, kliennya tidak mendapat kesempatan yang layak untuk bisa bersinar di klub Serie A Italia itu, setelah tiba dari Santos dengan nilai transfer sebesar €29,5 juta

Penyerang berusia 20 tahun itu memilih bergabung dengan Inter Agustus lalu, meski mendapat tawaran dari Juventus, Atletico Madrid, dan Leicester City.

Namun hingga kini Gabigol belum pernah menjadi pemain inti Inter, ia bahkan hanya bermain 19 menit dalam dua kesempatan tampil sebagai pemain pengganti.

Hal itu membuat Ribeiro mengkritisi tim yang kini dilatih oleh Stefano Pioli tersebut, dan membuka peluang bagi kliennya untuk hengkang sebagai pemain pinjaman pada bursa transfer Januari mendatang.

“Saya paham dia adalah pemain muda dan harus banyak belajar, tapi saya tidak tahu mengapa ia sangat jarang mendapat kesempatan bermain,” ujar Ribeiro kepada Gazzetta dello Sport.

“Jika Inter berada di puncak klasemen Serie A saya bisa paham mengapa ia harus menunggu untuk bisa bermain. Tapi Inter kini berada di papan tengah dan dia tetap tidak memiliki kesempatan.”

“Saya telah bertemu dengan presiden [Erick] Thohir dan dia bilang pada saya Inter akan membuat Gabriel menjadi pemain terbaik dunia.”

“Gabriel tiba di Italia, dia disambut ribuan orang di bandara dan diperkenalkan di auditorium yang sama seperti yang mereka lakukan pada Ronaldo.”

“Kondisi fisiknya bagus dan telah menyatu dengan tim, tapi dalam tiga bulan ia hanya bermain 19 menit.”

“Pada Januari saya akan menanyakan pada [direktur olahraga Piero] Ausilio apa rencana Pioli padanya. Apakah dia akan memberikan kesempatan atau melepasnya sebagai pemain pinjaman?”

“Saya tidak mendesak sang pelatih, tapi jika dia tidak ingin memainkannya maka akan ada kesempatan di tim lain: contohnya seperti Adriano, ia pergi ke Parma dan kembali sebagai raja.”

Sementara Pioli mulai membuka misteri dari pembekuan diam-diam Gabigol di Inter. Menurutnya, Gabigol harus bisa bermain layaknya seorang yang bijaksana. Inilah yang terus ditekankan Inter kepadanya agar bisa lebih cerdas di atas lapangan. Secara individu, Gabigol punya atribut yang baik, tapi secara kolektivitas dan mentalitas, semua orang percaya kalau Gabigol masih membutuhkan banyak adaptasi.

Hal ini diutarakan Pioli usai laga vs Lazio. “Saya lebih ingin dia bermain kongkret. Bukan malah berlebihan.” Tentunya ungkapan tersebut membuat semua orang bingung. Pasalnya Gabigol bermain cukup baik di waktu yang diberikannya dan itu diakui banyak orang. Tapi justru Pioli mendiskreditkannya secara terang-terangan. Ucapan singkat yang banyak mengandung makna terselubung.

Diyakini, alasan dari dianggurinya Gabigol di Inter oleh 2 pelatih berbeda sekaligus tidak murni atas dasar kehendak sang pelatih. Banyak unsur di Inter yang sepertinya lebih menginginkan Gabigol tidak bermain lebih awal. Hanya Suning lah yang ingin ia bermain. Sedangkan Javier Zanetti dan seluruh staff yang telah mengenal tim ini sepertinya percaya kalau Gabigol belum memiliki kesiapan.

Gabigol memiliki kemampuan yang identik dengan Neymar di Barcelona. Kemampuan individunya tak jauh berbeda sebagaimana yang dipertunjukannya di Brazil. Di sinilah Inter tidak ingin Gabi seperti Neymar. Bermain dengan kemampuan individunya sampai-sampai melupakan kode etik kesopanan dalam sepak bola. Melewati pemain dengan berbagai trik dinilai adalah sikap kurang sopan karena dianggap merendahkan kemampuan lawan. Inilah mungkin yang diantisipasi seluruh orang di Inter agar pelatih mengurung sementara Gabigol.

Hal yang sama pernah terjadi kepada Xerdan Shaqiri, dimana hengkangnya Shaqiri diyakini karena terlalu banyaknya ia bermain dengan kemampuan individu ketimbang kolektivitas dengan tim. Inter tidak ingin tim ini bermain hanya dengan berpacu pada satu orang pemain.

LEAVE A REPLY